<body bgcolor="#F3F4F7" leftmargin="0" topmargin="0" rightmargin="0" bottommargin="0" onLoad="MM_preloadImages ('http://i1110.photobucket.com/albums/h441/sajakmasisir/jpg/banner_4ganti.gif')"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5385199\x26blogName\x3dSajak+Masisir+(Blog+Apresiasi)\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogapresiasi.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogapresiasi.blogspot.com/\x26vt\x3d-2409574782368321664', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 
 






 
Salam, Selamat datang di Komunitas Sajak Masisir  

Dikirim 7.11.07    
Menu Utama Pesta Penyair, 23 September 2007 

Asosiasi "Mewah" dalam Ke-Batang-an GM
Oleh Pangapora

Sampai-sampai, saya pun lupa pernah kenal kata puru, saat menemukannya kembali dalam "Mezbah" GM. Ada angin dan api lampu, tulisnya. Wajah itupun hanya putih, seakan puru.

Dalam keluarga, ayah-ibu bicara pakai bahasa Indonesia saat saya masih kecil, menggantikan bahasa Madura sebagai bahasa formil setempat. Ketam berarti kepiting parit, lapik berarti alas, sepeda motor berarti Honda (-nah, kan!- haha...), puru berarti semacam borok. Tapi ketika Mezbah mengangkat puru dan saya harus membuka kamus untuk mengetahui artinya, -lalu tentu saya terbahak setelah KBBI menjelaskan-, saya pun malu: usia begini lama kenal GM masih memasung asosiasi metaforik. Miskinnya.... Hahaha...

Saya sering setuju Saut Sitompul, kalau puisi itu (--mungkin--: juga) bunyi. Ucap. Bunyi harus ditangkap biar makna bisa didapat. Kalau bunyi dalam morfem bisa berasosiasi dengan maknanya sendiri yang lebih terbatas, tentu bunyi dalam fonem bisa juga berasosiasi dengan makna tertentu meski lebih luas. Artinya, "tas" bisa jadi keluar sebagai artikulasi wadah, namun dapat pula berarti tiruan bunyi letusan, yang bisa terus meluas mencari asosiasi-asosiasi yang lain.

…mengentaskan/…entas,/kentas…/’ntas…//mengkentas-kentaskan./mengentas-entaskan.//dientas-entaskannya anunya./’ntas-’ntasan…/berkentas di pentas,/pentas petasan,//k’ntang…eh, k’rtas…/eh tas… eh, bekas…/eh kandas… eh, tandas…/eh, impasse…/eh, ludassssssssssssssss//mengentaskan landasan./kandaskan pengentasan./mengentas-ludaskan parkandas,/pengentasan pentas.//kentas pementasan parkandas./ditindas-’ntaskan/ditindak-k’ntaskan/pantatskan pantatskan pantatskan pantatskan/ pantatskan pantatskan pantatskan pantas….. (dari esei Alex Suparno, puisi Belajar Membaca Berita, Saut Sitompul, tahun 1983)


Masalahnya, kalau pakai cara ini untuk mendekati puisi-puisi GM, kita mungkin akan sering kurang puas. Sebab puisi-puisi GM bukan teriakan orang "mabuk" atau orang demo yang menyentak pejalan kaki datang mendekat. Puisi-puisi GM tidak tampil dalam karnaval di alun-alun kota. Puisi-puisi GM hampir semuanya berada dalam suasana temaram, dan di balik kerimbunan atau bilik yang sunyi. Puisi-puisi ini lalu berbunyi. Dengan ketukannya sendiri. Pelan. Kita mengendap untuk menguping: puisi yang berbisik.

Kematian pun akan masuk kembali/ kembali, kembali.../ Mari./ Kuinginkan tubuhmu/ dari zaman/ yang tak punya tanda/ kecuali warna sepia. (Pada Album Miguel de Covarobias, GM, 1996)

Lalu di otak saya, koloni frasa, metafora, paragraf, tubuh, dalam puisi-puisi GM jelas menjerat pada timbangan mood tertentu, ruang tertentu, waktu tertentu, tempo tertentu, suasana tertentu. Di situ, imajinasi berbunyi dengan caranya sendiri. Bergumam. Kadang seperti mendesah. Dan kita sangat menikmatinya.

Tepat mungkin kalau Jokpin bilang --secara lebih spesifik-- diksi dalam puisi-puisi GM terasa begitu mewah. Setidaknya, secara personal saya sangat mendukung penggunaan kata "mewah" dalam deskripsi ini. Mewah = ruang pertunjukan megah di mana kata-kata mementaskan pertunjukan penting yang harus dinikmati. Ya: penting! Sunyi, smara, romantika, melankolia, aroma-aroma, air mata, peluh, darah, mesiu, prajurit bertempur di medan perang saat hari gelap hujan.

Mewah mungkin juga ke khas-an yang mahal dan jarang dari metafora-metafora yang hanya dapat dinisbatkan pada kepenyairan GM. "Matahari mengendap", "cahaya berenang", "sungai demam", "api yang tertinggal", "cahaya warna kusta", "gugur daun", "alun sedingin khotbah"... entah kita sudah berada di mana dengan itu semua. Suatu ruang pribadi mewah di mana hanya kita yang dapat menikmatinya, mungkin.

Kemewahan ini barangkali juga karena --kata penyair F Rahardi-- faktor GM yang punya kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman melebihi rata-rata orang Indonesia. Duh, apa iya? Sedihnya dong kalau iya. (Mungkin kata F Rahardi: "Jujur saja, lah!" Haha...)
Sama dengan efek bunyi dalam puisi Saut Sitompul, efek imajis dalam puisi GM menjadikannya sedemikian personal. Nah, penyair Jogja (tepatnya penyair Madura yang tinggal di Jogja) Kuswaidi, justru menilai ada bahaya dalam personalitas ala GM ini. Saat ngobrol di arena CIBF 2007 lalu, dia bilang gaya GM dapat menjerat generasi setelahnya dengan sangat kuat, sehingga tak memungkinkan mereka lari.
Bagi saya sendiri, jeratan gaya GM justru seperti sebuah pembenaran. Saya dapat merasakan kedekatan emosional dengan cara pendekatan GM terhadap objek pikirnya. Mungkin karena saya tahu, GM lebih dulu jadi "orang desa". GM lebih dulu anti-stereotip dan berjuang melawan itu. Bahwa asosiasi tidak melulu mutlak harus dituntun oleh perspektif "orang kebanyakan". Bahwa orang kampung tidak mesti kampungan. Bahwa ternyata "GM orang Barat yang lahir di Batang". Saya sangat terinspirasi.


Dicatat oleh Sajak Masisir, Jam 1:44 PM |    




Hadir dari sajak-sajak tercecer, kemudian kami kemas sebagai catatan-catatan duplikat hati yang acap kali meraung menyuarakan irama-irama kebebasan, kesefahaman, penolakan, penyesalan, kritik, keindahan dan romantisme. mungkin hanya rangkaian huruf-huruf setengah jadi, namun izinkanlah ianya dinamai sebagai sajak. Hanya untuk menjembatani inspirasi-inpirasi terpasung, sangat sayang jika sekedar tertoreh di atas lembaran kertas-kertas usang.



Jumlah Pengunjung
Sejak April 2007

Best View : IE, 1024x768 px


Powered by Yahoo Groups
© 2007 TintaKita Corporation
Design : abditea. All Rights Reserved
Powered By : blogger.com & aoshartos.com